Kamis, 20 Desember 2018

Kalian dan Masa Kecil Yang Tak Terlupakan


“ya ampun, itu foto jadul banget..” , “ih, itu kan pas aku usia 5 tahun deh kayaknya.. malu tahu..” , “dapat darimana sih foto ini? Hehehe..”.

Itulah sekilas cuplikan tayangan infotaiment pagi ini. Sang artis yang menjadi bintang tamu tampal tersipu saat sedang ditanya seputar foto masa kecilnya. Ah, masa kecil… kira-kira, apa yang paling kalian ingat dari masa kecil kalian? Dan apakah kalian punya dan masih menyimpan rapi foto-foto kalian di masa itu? Rasanya super iri melihat mereka yang memiliki foto-foto soal kenangan masa kecilnya. Mulai dari balita, kanak-kanak, sekolah dasar, terus sampai kuliah dan bahkan berkeluarga. Tapi, bukankah yang terpenting dari itu semua tetaplah kenangan yang tersimpan rapih didalam angan? Ngeles aja yah… Tapi benar loh, buat kamu yang mungkin sama seperti saya, yang tidak memiliki album dokumentasi saat kecil, tak perlu bersedih hati. Karena ada atau tidak adanya foto yang mengabadikan itu semua, kita masih memiliki ingatan cerita yang akan bisa kita wariskan ke anak cucu kita nanti.

           Berbicara mengenai masa kecil, rasanya itu kayak makan permen manis asam asin, rame rasanya. Banyak hal manis yang tak akan terlupakan, tapi tak sedikit pula kenangan pahit yang masih enggan untuk beranjak dari ingatan. Hal pertama yang saya ingat dari masa kecil saya adalah madrasah atau pondok pesantren. Mulai dari usia 5 tahun, anak-anak kecil di desa kami memang dimasukan ke pondok untuk belajar membaca Al-Quran dan kitab. Belajar di pondok saya jalani kurang lebih sampai kelas 2 SMP. Dimana selepas itu, saya lebih memilih untuk fokus ke pelajaran sekolah.

            Semasa di pondok, saya bertemu dengan banyak kawan baru, namun yang paling dekat ada 4 orang saat itu. Ada Amir, Wawan, Diding dan Kosasih. Wawan dan Amir sudah berteman karena berasal dari dusun yang sama, sedang Diding dan Kosasih adalah adalah teman seangkatan. Keduanya merupakan kakak kelas kami bertiga. Kami biasa mengaji berlima sebagai kelompok dan menamai grup kami sendiri dengan sebutan grup “Sailor Moon”. Saya berpura-pura sebagai Usagi alias sailor moon itu sendiri, Amir sebagai sailor merkuri, Wawan sebagai sailor venus, Diding sebagai sailor jupiter dan Kosasih sebagai sailor mars.

Ada 2 alasan kenapa kami memilih nama grup “Sailor Moon”. Pertama karena itu adalah serial kartu yang paling populer untuk ditonton selain Power Ranger dan Doraemon pastinya. Dan yang kedua karena karakter atau sifat kami yang dirasa mirip dengan karakter anime tersebut. Amir, pendiam, pintar, rajin menulis dan mungkin paling patuh sama orang tua (begitu kami menilainya saat itu). Wawan, seorang yatim, ia paling lembut, perasa, dan suaranya pelan sekali. Tapi ia jago menggambar. Diding, badannya paling besar, paling gaul dan kekinian diantara kami semua. Sementara kosasih, paling cerewet, paling berani alias yang paling jago. Di kemudian hari, kami akhirnya tahu kenapa Kosasih selalu paling cerewet dan begitu jagoan, setidaknya menurut kami.

Keakraban kami dimulai secara tak sengaja. Berawal dari saya yang saat itu menangis karena dijahili oleh teman-teman yang lebih besar. Saya akhirnya memilih menyendiri. Pada saat itulah Amir dan Wawan datang mengajak berkenalan dan bermain bersama. Dari mereka, saya kenal dengan Diding dan Kosasih. Dan sejak saat itu kami seolah membentuk grup tersebut. Hari-hari kami tak pernah sepi dari “Bully-an”. Ada saja yang mengejek kami. Tapi, kami selalu bisa mengacuhkannya, menggantinya dengan senyuman karena kami merasa saling memiliki satu sama lain. Padahal jauh dibawah hati kecil kami, masing-masing dari kami merasa begitu sedih dan mungkin mempertanyakan, kenapa kami harus di-bully?

Hal yang saya senang dari masa kecil saya bersama mereka adalah tentang bagaimana kegigihan mereka menghadapi olokan dan membalasnya dengan prestasi. Bolehlah saya menyebutnya begitu. Amir, sebagai yang paling rajin, dia salah satu murid yang paling banyak hafalan Quran-nya. Wawan, meski tak begitu jago menghafal, tapi dia adalah yang paling peduli dan selalu menyemangati kami. Dan puncaknya saat kami berlima terpilih untuk tampil di acara Maulid Nabi pondok dengan membawakan tarian tradisional “Rudat”. Ada yang pernah dengar?

            Tampil sebagai pengisi acara Maulid adalah impian setiap anak pondok saat itu. Disaksikan oleh setiap orang tua yang datang adalah kebanggan buat kami tersendiri. Di masa itu, teater tentang kisah sahabat Nabi adalah yang paling populer, sementara rudat belum pernah ditampilkan sebelumnya. Pujian dan olokan juga hadir bersamaan. Mengingat gerakan tarian Rudat yang mirip dengan tari Saman, yang mungkin biasa dibawakan oleh penari wanita. Setiap hari kami berlatih, berusaha menampilkan yang terbaik sebisa kami saat itu. Dan alhamdulillah, pertunjukan kami sukses dan bahkan kami tampil lagi di tahun berikutnya. Penampilan terakhir kami.

            Mengenang mereka semua, selalu mampu menghadirkan haru. Terlebih setelah apa yang masing-masing kami lewati hingga saat ini. Mungkin tanpa mereka yang selalu ada buat saya saat itu, saya tidak bisa jadi diri saya sekarang. Saat ini, kami sudah berpisah. Maksudnya sudah jarang sekali berkomunikasi. Amir, saat ini ia sudah berkeluarga. Wawan, masih bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Kosasih, melanjutkan peran orangtuanya sebagai petani. Diding, sukses dengan usaha retail telepon selulernya. Lalu bagaimana dengan penulis sendiri? Kenapa dulu memilih karakter sailor moon? Alasannya cukup penulis saja yang tahu. Yang pasti, mengenal dan menghabiskan masa kecil bersama mereka, seperti melihat pelangi setelah hujan di sore hari. Indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SPECIAL PAKET BUFFET HALAL BIHALAL OMEGA HOTEL MANAGEMENT

Satu bulan penuh sudah kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Dilanjutkan dengan perayaan Idul Fitri atau lebaran sebagai tanda kemenan...