Kamis, 20 Desember 2018

Makna Sebuah Kutipan


source: bslc.or.id/uncategorized/
Membaca adalah salah satu hobi universal yang dilakukan banyak orang, termasuk saya. Sedari kecil saya memang sudah senang membaca. Dulu, saya senang sekali membaca cerita bergambar tentang kisah para sahabat nabi, termasuk serial pendek si Petruk yang biasanya dijual oleh pedagang keliling di sekitar sekolah dasarku dulu. Menjelang remaja, saya mulai mengenal komik dan novel ringan seperti Lupus. Sementara itu, di masa SMA, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca novel islami dan bahkan sempat berlangganan majalah dan tabloid remaja yang memang banyak digandrungi saat itu.




source: aggregator.blogbukuindonesia.com
Novel pertama yang saya baca, saya masih ingat jelas, berjudul Siluet Senja, buah karya dari Hafidz341 dan Ria Fariana, yang diterbitkan oleh penerbit Gema Insani Pers. Novel ini saya beli saat ada acara islami tahunan di sekolah, dimana saat itu Rohis di sekolah kami membuka stand penjualan buku dan novel islami. Hal menarik yang membuat saya membeli novel ini adalah cover atau sampulnya yang begitu provokatif. Membuat penasaran untuk dibaca, terlebih sepotong kutipan turut ditampilkan disana. Dan setelah saya membacanya, saya makin jatuh hati dengan novel ini.

Barisan puisi, gambar ilustrasi, surat-surat dengan prosa yang indah dan alur cerita yang manis khas remaja, mampu menghanyutkan saya pada cerita didalamnya. Banyak kutipan menarik yang saya suka. Bahkan, saya merasa kalau sebagian dari yang diceritakan di novel ini seolah mampu mewakili isi hati saya saat itu. Adapun salah satu kutipan yang paling saya suka adalah isi penggalan surat salah satu tokoh utamanya:


… Menangislah jika ingin menangis. Karena perjalanan hidupku memang pantas untuk ditangisi. Tapi setelah itu, hapus air matamu dan pandang duniamu dengan lebih terarah. Doa kubingkiskan untukmu dan sematkanlah secuil doa bagi jiwa yang rapuh ini. Hanya Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita dan aku tak akan pernah bisa melawan takdir-Nya.


source: teropongquote
 Dalam sekali rasanya penggalan kalimat diatas. Kadang kita sebagai manusia, terutama saya sebagai lelaki, terlalu malu untuk menangis. Merasa bahwa menangis adalah simbol kelemahan. Padahal tak ada yang salah dengan sebuah tangisan. Seseorang yang menangis, tidak berarti dia lemah. Justru, tangisan seseorang sejatinya adalah perwujudan ketegaran hatinya, dan juga sebagai penanda bahwa ia adalah manusia biasa yang memiliki batas kekuatan. Menangis adalah hal manusiawi yang berhak dilakukan oleh kita, manusia.

Saat kita memilih menangis, berarti kita memilih untuk memeluk diri kita sendiri. Kita memilih untuk menerima kelemahan dan ketakberdayaan diri. Bahwa tangisan sejati tidak akan melemahkan, melainkan melegakan dan menguatkan. Tangisan yang tulus, pasrah akan selalu mampu menghadirkan kekuatan dan sebuah cara pandang baru yang lebih positif. Dan karenanya tak jarang menangis seringkali menjadi titik awal seseorang untuk bisa melihat hidup menjadi lebih terarah.  
  Bolehkah kita larut dalam tangisan sepanjang waktu? Pastinya tidak. Menangislah secukupnya. Jangan biarkan kesedihan dan tangisan menjadi rantai atau belenggu yang membuat kita enggan melanjutkan hidup. Selalu berpegang teguh pada prinsip bahwa Tuhan selalu memiliki maksud baik di setiap pahit yang dirasakan. Bahwa apa yang buruk menurut kita, belum tentu di mata Tuhan, Hal sebaliknya berlaku juga demikian. Bahwa sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, untuk kemudian menyerahkan segala hasilnya kepada Sang Maha. Dan yang pasti, selalu percaya bahwa ada doa-doa tak terlihat yang mengelilingi kita. Doa yang dikirimkan oleh mereka yang begitu sayang, percaya dan menggantungkan harapannya. ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar