Minggu, 23 Desember 2018

Tere Liye - Rindu : 1 Perjalanan, 5 Tanya, & Satu Kerinduan


Source: Goodreads
Membaca adalah sebuah hobi yang universal. Meski jenis ataupun tipe cerita dari sebuah buku yang disukai berbeda-beda, intinya tetap satu, membaca. Saya pribadi memiliki kecenderung untuk lebih memilih membaca buku atau novel yang bertemakan sejarah, konspirasi, detektif, dan juga roman. Hal yang biasanya saya lihat dari sebuah buku / novel adalah judul, sampul muka / cover, baru kemudian sinopsis dan alur cerita. Belakangan ini saya sedang  menggandrungi novel karya Tere Liye. Sudah lumayan banyak novel karya beliau yang saya beli, baca dan kemudian saya koleksi. Salah satunya adalah novel berjudul Rindu. Novel ini sebenarnya sudah diterbitkan sejak tahun 2014, namun saya pribadi baru menyempatkan diri untuk membelinya di bulan May lalu. Sengaja saya beli sebagai teman untuk perjalanan saya mudik lebaran nanti. Novel ini rupanya adalah karya Tere Liye yang-20, dimana hal ini menunjukan betapa produktifnya beliau selama ini. Lalu, berkisah tentang apa sebenarnya novel ini? Dan apa yang membuatnya spesial sehingga harus saya beli dan baca?


            Merujuk kepada judul novelnya, Rindu, mengisahkan tentang lima kisah, lima karakter, yang dipersatukan dalam sebuah perjalanan panjang mengantakan para jemaah haji Indonesia. Mengambil latar waktu tahun 1938, dengan lokasi utama di sebuah kapal uap bernama Blitar Holland. Penulisannya sendiri menggunakan alur maju yang memudahkan kita sebagai pembaca untuk mengikuti jalan cerita yang ada. Adapun tokoh utamanya ada Daeng Andipati, Ahmad Karaeng yang dipanggil Gurutta, Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet, Ambo Uleng, Bonda Upe, Kelimanya hadir membawa pertanyaannya masing-masing namun disatukan dalam satu tali benang merah yang sama, kerinduan.

            Daeng Andipati, sosok sempurna dari seorang kepala keluarga, seorang ayah dari dua yang menggemaskan, Anna & Elsa, ataupun sebagai pribadi yang memiliki karir bisnis yang menjanjikan. Namun dibalik itu semua, ia menyimpan kebencian yang teramat dalam terhadap ayahnya sendiri. Begitu besarnya rasa benci yang ia miliki, sehingga mampu membuat kehidupan yang ia jalani dan miliki tampak seolah tak berarti. Disini, Tere Liye mampu menghadirkan ironi yang getir tentang bagaimana rasa benci justru hadir dari dua orang yang terikat dalam ikatan darah yang seharusnya saling mencintai.

 
            Gurutta, tokoh ulama berilmu dan beradab ini adalah kunci jawaban dari hampir semua pertanyaan yang hadir dalam novel ini. Digambarkan sebagai sosok yang bersahaja, rendah hati, ramah, terbuka, berbaur dengan siapapun bahkan dengan anak-anak sekalipun, seperti dengan Anna & Elsa. Meski dikatakan mampu menjawab setiap pertanyaan yang diberikan, sejatinya, Gurutta pun memiliki pertanyaannya sendiri. Sebuah pertanyaan yang begitu mengusik batinnya setiap waktu.

            Pertanyaan besar tentang cinta hadir melalui kisah romantis antara Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet. Sepasang pasutri sepuh dari Semarang. Kehadiran sepasang tokoh ini membuat saya terenyuh, bahkan mampu membuat angan saya tanpa sadar berdoa lirih, berharap bisa mendapatkan pasangan dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti mereka. Berikut adalah contoh kutipan dialog yang sukses membuat saya haru.
“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu.  Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (hal. 205)

            Gejolak dan pertanyaan tentang kebencian, takdir, dan cinta sudah diuraikan diatas, lalu pertanyaan apalagi yang dikisahkan di novel ini? Tokoh utama berikutnya adalah Ambo Uleng. Seorang kelasi pendiam dengan hobi berdiam diri sambil menatap jendela bundar di kabin. Membawa pertanyaan tentang takdir, Ambo uleng hadir dengan gambaran sifat baik yang patut diteladani. Salah satunya adalah kemauannya untuk belajar mengaji yang mana dalam novel ini dikisahkan ia belajar kepada Anna, yang merupakan seorang anak kecil. Ambo Uleng adalah kunci jawaban atas pertanyaan terakhir yang tak bisa dijawab oleh Gurutta.

           
Terakhir, Bonda Upe, hadir membawa masa lalu untuk dipertanyakan. Sebuah pergolakan batin yang terangkum apik sehingga mampu membuat saya turut serta merasakan kegelisahan yang sama dengan tokoh ini. Kisah Bonda Upe menunjukkan dan mengajak saya untuk tetap percaya bahwa akan selalu ada seseorang yang hadir dan tidak menyerah untuk tulus mencintai dan menyayangi kita, seburuk apapun masa lalu yang pernah dijalani.

“Dia tulus menyemangatimu, tulus mencintaimu. Padahal, dia tahu persis kau seorang cabo. Sedikit sekali laki-laki yang bisa menyayangi seorang cabo. Tapi Enlai bisa, karena dia menerima kenyataan itu. Dia peluk erat sekali. Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti. (hal. 312-313).
            Saya menyelesaikan membaca novel ini didalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Tanpa saya sadari, beberapa bagian dialog di novel ini sukses membuat saya meneteskan air mata karena terharu, tersadar. Bahwa novel ini, bukan hanya sekedar cerita tentang perjalanan ke Tanah Suci. Akan tetapi, hadirnya kelima pertanyaan dalam novel inilah yang mampu membuat saya kembali merenungi dan memiliki pemahaman baru tentang arti pulang, arti cinta, arti hidup, dan belajar tentang bagaimana seharusnya menyikapi sebuah masa lalu. Terimakasih Tere Liye, novel ini buat saya pribadi adalah yang paling berkesan. Sukses dan teruslah berkarya. 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar